Selain curah hujan yang tinggi sejak Desember 2012, sistem
drainase yang buruk, dan jebolnya berbagai tanggul di wilayah Jakarta, banjir
ini juga disebabkan meningkatnya volume 13 sungai yang melintasi Jakarta.
Tercatat Bogor[1], Bekasi[2], Depok[3], dan Tangerang[4] juga mengalami hal
yang sama pada masa ini.
Curah hujan Hingga pertengahan Januari 2013, Jakarta
tercatat mencapai rekor curah hujan hingga 250-300mm, melebihi kondisi Banjir
Jakarta 2002 yang mencapai 200mm, namun masih di bawah kondisi Banjir Jakarta
2007 yang mencapai 340mm.[5][6]
Kepala BPPT, Tri Handoko Seto, menyatakan bahwa gelombang
atmosfer, angin muson, dan osilasi diurnal menyebabkan tingginya curah hujan
ini. Massa udara dari laut China selatan dan India bergerak ke selatan menuju pusat
tekanan rendah di Australia. Massa udara ini kemudian mengalami pembelokan di
sekitar Jakarta, akibat tekanan rendah di Samudera Indonesia, di sebelah barat
daya Jakarta. [7]
Masalah drainase Tingginya curah hujan di kawasan bisnis MH
Thamrin membuat jalanan tergenang pada tanggal 22 Desember, mulai dari Sarinah,
Sabang hingga Monumen Nasional.[8] . Kepala Dinas PU DKI Jakarta, Ery Basworo,
menyatakan tingginya curah hujan sebagai penyebab buruknya genangan dan
menyangkal adanya masalah drainase dan sampah. Buruknya genangan disebabkan
pompa yang telah disediakan tidak mampu mengimbangi tingginya aliran air yang
hendak dipindahkan ke Kanal Banjir Barat. [9]
Namun pendapat ini dibantah oleh Kementerian Pekerjaan Umum
melalui Menteri Djoko Kirmanto, yang menegaskan masalah sampah yang menyumbat
drainase dan menghalangi aliran air menuju pompa yang telah terpasang.
Kementerian Pekerjaan Umum juga menjanjikan alokasi dana hingga 18 Triliun
rupiah untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta. [10]
Hal ini diperkuat lagi oleh fakta bahwa gorong-gorong di
sekitar wilayah tersebut yang ternyata hanya berukuran 60 sentimeter, dan belum
pernah dibangun lagi semenjak tahun 1970an. Inisiatif Gubernur DKI Jakarta,
Joko Widodo untuk memeriksa drainase di Jalan MH Thamrin, membuat hal tersebut
terungkap kepada publik dan akhirnya memunculkan ide untuk membangun Smart
Tunnel untuk membantu mempercepat mengalirnya air ke laut. [11]
Kerusakan tanggulSejak akhir tahun, telah terjadi beberapa
kerusakan tanggul, dimulai dari tanggul di Kali Adem, Muara Angke, Penjaringan,
Jakarta Utara, pada tanggal 13 Desember 2012. Kerusakan tanggul ini menyebabkan
500 rumah warga terendam air laut, serta dua warga hanyut. Akhirnya ratusan
gubuk liar dibongkar untuk mempermudah masuknya alat berat guna memperbaiki
tanggul. Lurah Pluit menjelaskan hempasan air laut pasang yang menggerus
tanggul yang menyebabkan kerusakan ini.[12]
Banjir di Jl. Rasuna Said, Setiabudi, Kuningan, Jakarta
Selatan Musibah kembali menyusul pada tanggal 20 Desember 2012, dengan jebolnya
tanggul di Kali Cipinang. Akibatnya 979 warga terpaksa mengungsi ke GOR
Makassar serta Jalan Pusdiklat Depnaker dan Jalan Masjid Suprapto tergenang,
menutupi akses warga Pinang Ranti menuju Halim. Diketahui buruknya konstruksi
tanggul yang tidak menggunakan rangka menyebabkan rusaknya tanggul ini. [13]
Tanggul Kali Laya, Pekayon, Jakarta Timur, menyusul pada
tanggal 24 Desember 2012, sehingga air merendam pemukiman sekitarnya. Dinding
sungai yang mengalami kerusakan memiliki tinggi dua meter. [14]
Pada Tanggal 15 Januari 2013, menyusul tanggul di Kedoya
Selatan, Kebun Jeruk, jebol dan menyebabkan banjir setinggi dua meter. Tanggul
ini juga tercatat memiliki konstruksi buruk karena hanya dibuat dari karung
pasir, sehingga tidak kuat menahan air Kali Pesanggrahan. Warga diungsikan ke
bagian timur rel Pesing, namun kebanyakan bertahan di rumah masing-masing [15]
Pada tanggal 17 Januari 2013, tanggul Kanal Banjir Barat, di
daerah Latuharhari juga jebol dan menyebabkan terendamnya kawasan perumahan
mewah di Menteng dan berbagai kawasan bisnis di pusat kota. Perbaikan segera
dilakukan namun terhambat arus lalu lintas. [16]
Menurut perkiraan Gubernur DKI Jakarta, banjir ini telah
menyebabkan kerugian hingga Rp 20 Triliun[17]. Sementara pengusaha, melalui
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, mengklaim terjadinya
kerugian ekonomi lebih dari Rp 1 Triliun. Selain itu Rp 1 Miliar harus
dikeluarkan untuk menyiapkan kebutuhan pengungsi.[18] Perusahaan Listrik Negara
juga memiliki taksiran kerugian 116 Miliar akibat terganggunya fungsi
pembangkit dan peralatan distribusi dan transmisi yang mengalami kerusakan
akibat tergenang air. [19]
Selain secara ekonomi, banjir juga menelan 20 korban jiwa
dan 33.500 orang terpaksa mengungsi.
Korban [Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan
jumlah resmi korban yang tercatat selama banjir Jakarta 2013, pada tanggal 18
Januari 2013, adalah 12 orang, dengan rincian 5 orang karena disetrum listrik,
2 orang karena kedinginan, 2 orang karena terpeleset atau jatuh, 1 orang karena
hanyut, 1 orang karena usia lanjut, dan 1 orang sudah ditemukan meninggal di
rumah. [20]. Data ini diperbaharui kembali pada tanggal 22 Januari menjadi 20
korban jiwa, dan 33.502 orang terpaksa mengungsi. [21]
Terendamnya Gedung UOB] Jebolnya tanggul Johannes
Latuharhary menyebabkan air mengalir deras hingga ke Bundaran HI. Lantai bawah
tanah dari Gedung UOB yang memiliki ketinggian lantai dasar hampir sama dengan
jalan dalam sekejap terendam. Selama proses pengeringan, ditemukan korban 2
orang meninggal, dan 2 lainnya dalam kondisi lemas dan kaku karena terendam air
dalam waktu yang lama.[22] Selain itu ditemukan setidaknya 47 mobil terendam di
lantai basement 1 dan 2.[23]
PenanggulangganBerbagai upaya dilakukan untuk mengatasi
berbagai masalah yang terjadi selama banjir, antara lain dengan memperbaiki
tanggul, pendirian posko bantuan di titik-titik yang terkena banjir, relokasi
pengungsi ke rumah susun, hingga pengumuman status darurat banjir.
Relokasi pengungsi Waduk Pluit[sunting Pada tanggal 18
Januari, menyusul jebolnya tanggul latuharhari, daerah Pluit ikut terendam.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menawarkan relokasi kepada penghuni
rumah liar di sekitar Waduk Pluit untuk pindah ke rumah susun yang diberikan
fasilitas sangat lengkap, dengan alasan mengurangi dampak banjir di masa depan
dan memungkinkan peralatan berat bekerja untuk mengeruk waduk.
Modifikasi cuaca Setelah adanya permintaan dari DKI
Jakarta[25], mulai tanggal 26 Januari hingga 25 Maret 2013, BPPT dan BNPB
melakukan upaya modifikasi cuaca, dengan cara mencegah pembentukan awan dan
menurunkan hujan di luar wilayah rawan banjir. Untuk kerjasama ini, BNPB
mengeluarkan biaya hingga Rp 13 Miliar. Proyek serupa pernah sukses dijalankan
di SEA Games Palembang dan PON 18 Riau.
Pengendalian cuaca dilakukan dengan mengerahkan 1 Hercules
C-130 dan 3 peswat CASA 212-200 untuk mempercepat awan menjadi hujan. Sedangkan
untuk menghambat pertumbuhan awan dipasang 25 titik GBG (Ground Based
Generator) yang membakar flare berisi bahan higroskopis (NaCl). Proyek ini juga
didukung 3 radar hujan dan 6 stasiun pos meteorologi.
Keadaan darurat banjir
Pada tanggal 17 Januari 2013, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengumumkan status darurat banjir untuk Jakarta setelah jatuhnya 5 korban jiwa dan 15.447 warga terpaksa mengungsi. Pada saat itu, BNPB mencatat banjir telah menggenangi 500 RT, 203 RW di 44 kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan.
www.allyoucanshare.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar